Skip to main content

Bush and his Bullshit


Bush Dan Mata Rantai Kebohongan

Rezim Saddam Hussein telah tumbang, namun Irak masih jauh dari ketenangan. Beberapa waktu lalu, pasca runtuhnya rezim Saddam Hussein, sebagian masyarakat Irak kehilangan akal sehat, dan merayakan ambruknya rezim tersebut dengan menjarah apa saja tanpa pandang bulu. Tidak hanya hotel dan istana mewah, rumah sakit dan gudang-gudang penyimpanan makanan pun tak luput dari serbuan individu-individu yang dilanda histeria ini.
Situasi benar-benar kacau-balau. Tetapi, anehnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) berdalih bahwa berita-berita tentang aksi penjarahan di Irak hanya kabar yang dibesar-besarkan oleh media massa. Presiden Bush pun, saat para wartawan mengkonfrontasikannya dengan situasi mutakhir di Irak, mengeluarkan komentar bahwa rakyat Irak saat itu sedang merayakan kebebasan mereka dari keterkungkungan selama puluhan tahun. Irak, disebut Bush, telah berada di pintu gerbang demokrasi yang ditandai oleh suasana bebas untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut. Ini hanya salah satu dari mata rantai kebohongan lainnya yang dikemukakan Bush pada masa seputar perang Irak.
Drama yang semula terdiri dari dua aktor utama, Saddam dan Bush, kini hanya menyisakan satu pemain tunggal. Karena telah menjadi monolog, hanya ada satu suara yang terdengar dari panggung. Tak lain adalah suara (Pemerintah) AS. Dan, sebagian besar khalayak menilai, monolog itu terus-menerus berisikan kebohongan yang kasat mata.
Dusta dan pemutarbalikan fakta, yang disuarakan oleh George Walker Bush cs, merefleksikan tindak-tanduk yang menerjang rasa malu. Malu, dalam ungkapan Psikoanalisa, merupakan manifestasi super-ego yang ‘menegur’ ego. Super-ego, selaku garda pranata psikis manusia, memperingatkan ego (keakuan) yang nyaris diperbudak oleh id. Id haus akan kedigdayaan, sehingga memaksa ego untuk melakukan apa saja agar dapat memperoleh kejayaan tersebut.
Lazimnya, “melakukan apa saja” berada di luar batas kewajaran manusia. Saat itulah super-ego berusaha membangun pagar-pagar untuk membatasi langkah ego. Ketika proses ini berlangsung, konkritnya, akan muncul perasaan malu maupun takut.
Namun, nafsu angkara id tampaknya telah sedemikian dahsyat. Sehingga, tatkala super-ego mulai berhasil mempengaruhi ego, id mengeluarkan jurusnya yang cerdik namun manipulatif. Ego berada di persimpangan jalan: memenuhi tuntutan super-ego ataukah memuaskan id. Pada akhirnya, alih-alih menerima teguran super-ego secara tulus, ego mengatasi kondisi dilematis yang dihadapinya dengan melancarkan mekanisme dusta dan penjungkirbalikan kenyataan.
Situasi anarkis yang masif dibantah dan dinyatakan sebagai peristiwa kecil belaka. Atau yang lebih tinggi, dirasionalisasikan sebagai episode perayaan terbitnya mentari kebebasan dan lenyapnya badai tirani. Kendati dunia dapat menyaksikan kebohongan-kebohongan yang begitu kentara, perasaan malu telah hilang dari diri si pendusta. Super-ego telah terperdaya. Ia yakin bahwa ego telah menampilkan perangai seperti yang dikehendakinya. Padahal, tidak ada yang berubah, kecuali bahwa fakta tentang perilaku agresif tak berkemanusiaan telah dikemas ke dalam terminologi-terminologi penuh peradaban.
Demikianlah kedirian seorang George Walker Bush – beserta para ponggawanya – menampakkan diri. Presiden AS ini acap kali menyebut dirinya sebagai orang yang telah terselamatkan. Setelah larut dalam adiksi akan minum-minuman keras, Bush memperoleh cahaya “rumah Tuhan”. Begitu benderangnya cahaya tersebut, sehingga – seperti dipaparkan oleh berbagai analis – Bush mampu secara pasti membedakan antara good dan evil. Antara kebaikan dan kedurjanaan. Bush tidak hanya seorang politisi yang kaya akan pengalaman dan teori, melainkan juga diterangi oleh isi kitab suci.
Bush adalah seorang relijius, begitu ringkasnya, seperti ditulis oleh Dr. Khoren Arisian (2002), seorang ilmuwan dari New York Society for Ethical Culture. Bush juga diagung-agungkan sebagai seorang pemimpin relijius tanpa mahkota, oleh para aktivis evangelis di AS. Tekad besar Bush menghancurkan Saddam Hussein bukanlah sebuah ambisi politik yang baru terbentuk kemarin sore. Keinginan ini sarat akan pengaruh “ketuhanan” yang telah bersemayam di dalam diri Bush sejak lama. Hanya dengan menaklukkan Saddam Hussein, amanat “illahiah” itu dapat direalisasikan.
Dinamika – katakanlah – relijisiusitas Bush ini mengingatkan penulis pada Carl Gustav Jung, seorang neo-psikoanalis. Merujuk pada teori Jung, Bush bisa jadi tengah menuju tahap individuasi. Individuasi merupakan titik kesempurnaan manusia. Keparipurnaan diri pribadi yang ditandai oleh berubahnya keakuan individu, dari ego menjadi self.
Tidak mudah membuat batasan nyata antara ego dan self. Hanya saja, menurut Jung, ego identik dengan keakuan yang umumnya ada pada setiap manusia. Sedangkan self, tidak lagi aku-manusia, melainkan sudah menyatu dengan nilai-nilai illahiah (God-image within the psyche).
Berjuta manusia berusaha menjadi self. Tapi, berjuta pula yang gagal. Apa pasal? “Berusaha menjadi self” hanya akan mendorong manusia untuk membangun strategi-strategi yang dilandaskan pada akal sehat. Self, menurut Jung, tidak dapat didekati dengan cara demikian. Jung menunjukkan bahwa self justru ada sebagai hasil tingkah laku yang tidak dapat dicerna oleh akal sehat manusia kebanyakan.
Atas dasar itu, berbeda dengan berbagai julukan negatif yang diberikan kepada Bush, bagaimana jika dibangun spekulasi bahwa Bush tengah bertransformasi dari ego ke self?
Sebelum invasi, Bush senantiasa mengkampanyekan pentingnya pengiriman pasukan multinasional ke Irak guna menghancurkan senjata penghancur massa. Kenyataannya, sampai sekarang tidak ada senjata semacam itu yang ditemukan oleh pasukan koalisi di Negeri 1001 Malam tersebut. Bahkan, kini terbongkar bahwa berbagai analisis intelijen yang diutarakan Bush ternyata rekaan belaka. Bush juga menolak keinginan banyak negara agar tim pemeriksa senjata (utusan PBB) kembali ke Irak.
Tatkala perang berkecamuk, Bush mendeskripsikan antusiasnya masyarakat Irak menyambut kedatangan pasukan pembebas. Walaupun keberpihakan masyarakat Irak terhadap AS dan sekutu-sekutunya memang ada, hari-hari belakangan ini gamblang menunjukkan bahwa mayoritas-signifikan rakyat Irak tetap menaruh sentimen negatif terhadap AS.
Setelah kursi kekuasaan Saddam Hussein runtuh, Bush siap mendemokratisasi (baca: mewesternisaasi) Irak. Faktanya, propaganda pro-demokrasi Bush tidak kunjung populer, karena proporsi terbesar komunitas Irak justru ingin menjadikan Irak sebagai negara teokrasi berazaskan Islam. Tidak hanya itu, mereka mendesak coalition of willing untuk segera keluar dari Irak.
Jadi, apakah Bush merupakan sosok ideal yang pada dirinya melekat citra self? Bush, dan siapapun, boleh saja mengklaim demikian.
Terlepas dari itu, adalah layak bagi publik untuk berharap bahwa para “individu yang telah hidup sebagai self” akan benar-benar menyemai keadilan dan kedamaian di muka bumi. Tanpa pilih kasih, tanpa kepentingan pribadi. Wallaahu a’lam. []
Jumat, 01 Agustus 2003 12:57 WIB
WacanaBush Dan Mata Rantai Kebohongan
Oleh: Reza Indragiri Amriel Alumnus Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Comments

Popular posts from this blog

And In The End The Love We Take Is Equal To The Love We Make

yah, And In The End The Love We Take Is Equal To The Love We Make......

Love itu apa?
buset jutaan orang dah mencoba mendefinisikan kata ajaib ini, jutaan lagu, puisi dan semua karya cipta lahir dari kata ajaib ini,sebaliknya begitu banyak tanggung jawab atas sebuah kehancuran, penderitaan dan luka yang diakibat kan kata ini.

saat kita mendefinisikan "love", "cinta", "kasih sayang" pada saat itu pula kita sedang memproyeksikan diri kita sendiri, apa yang kita katakan tentang "cinta" hanyalah sebuah gambaran tentang bagaimana kita atau siapa kita.

lalu cinta itu apa, mengutip sebuah film, cinta hanyalah sebuah kata yang menjadi penting adalah bagaimana kata itu berpengaruh pada kita. cinta itu kata kerja, kata Steven R Covey..iya juga sih benar, gak salah karena dia orang yang berhasil menjelaskan konsep proaktif pada jutaan manusia.

Cinta itu buta...wah itumah lagu euy. ... if love is blind I found My way with you.... :)

Cinta itu........wah panjang …
davidian
RENUNGAN DIRI

Assalamu'alaikum wr wb,

Semoga renungan-2 berikut ini, bermanfaat buat saya
dan ikhwan/akhwat rohimakumullah...

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a.
" Wahai 'Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.
Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya',
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah
mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah
menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir,
penyakit royal adalah hidup mewah, dan
penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan....

Ketika berwasiat kepada 'Ali bin Abi Thalib r.a.
Rasulullah SAW bersabda :
Wahai 'Ali, orang yang riya' itu punya tiga ciri, yaitu :
rajin beribadah ketika dilihat orang,
malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian da…

KATA KATA KASAR

davidian

KATA-KATA KASAR

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
"Oh,maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata,
"Maafkan saya juga;Saya tidak melihat Anda."
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.

Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah,
lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi,
tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam,
anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya.
Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
"Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.

Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan
halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan
orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi
anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan
sewenan…